Seorang introvert belum tentu pemalu. Dia juga belum tentu tidak punya pendapat karena lebih banyak diam. Kekuatan terpendam introvert bisa digali jika Anda tahu cara yang tepat.
Anda lebih suka menghabiskan waktu senggang dengan berdiam diri di dalam kamar? Hanya bisa menikmati pesta selama satu-dua jam lalu ingin segera pulang? Merasa tidak nyaman jika berada di antara banyak orang baru?
Jika semua pertanyaan itu Anda jawab dengan “ya”, mungkin itu tanda bahwa Anda termasuk dalam kategori orang introvert.
Carl Gustav Jung, seorang ahli jiwa dari Swiss, membagi tipe manusia menjadi dua bagian, sesuai dengan arah perhatian dirinya. Orang yang perhatiannya keluar dirinya disebut ekstrovert, sementara yang perhatiannya lebih ke dalam dirinya sendiri disebut introvert.
Tipe ekstrovert cenderung bersifat terbuka, ramah, penggembira, mudah bergaul, mudah memengaruhi sekaligus mudah dipengaruhi lingkungan. Sebaliknya, mereka yang tergolong introvert cenderung kurang pandai bergaul, pendiam, suka menyendiri, sukar diselami hatinya, bahkan cenderung merasa takut kepada orang lain.
“Aku lebih nyaman mengirim SMS atau e-mail daripada menelepon, apalagi berbicara langsung pada orang yang kita tuju,” cerita Maya, yang mengaku sebagai seorang introvert.
Lain lagi cerita Rika, “Kalau sedang pengin refreshing, saya paling suka jalan-jalan sendirian, meski cuma lihat-lihat etalase toko di mal. Tapi yang penting sendirian Itu aneh enggak, sih?”
Tentu saja, itu bukan sesuatu yang aneh, karena dikatakan oleh Mary Sheedy, dalam bukunya,Raising Your Spirited Child, bahwa dua sifat manusia – introvert dan ekstrovert – lebih menjelaskan tentang bagaimana kita mendapatkan energi. Sumber energi seorang introvert berada di dalam dirinya. Karena itu, bagi seorang introvert, menikmati kesendirian adalah sumber kebahagiaannya. Sebaliknya, berada di tengah keramaian bersama orang-orang lain akan menguras energinya.
Sayangnya, pembagian sifat ekstrovert dan introvert sering dihubungkan dengan keterampilan seseorang dalam menjalin hubungan sosial. Sekali lagi, Sheedy menegaskan, “Introvert sering digunakan untuk mendeskripsikan orang yang pemalu dan susah bersosialisasi. Padahal, sebenarnya pemilik kedua sifat itu dapat saja sangat mudah berinteraksi dengan orang lain.” Sheedy menambahkan, “Yang membedakan adalah apa yang terjadi selanjutnya. Orang introvert akan merasa lelah setelah interaksi itu, sementara yang ekstrovert justru bersemangat untuk melakukan banyak hal.”
Dan, meskipun sifat orang introvert dan orang ekstrovert seperti dua kutub yang berlawanan, tapi sebenarnya dalam diri kita ada sebagian sifat introvert, dan ada sebagian sifat ekstrovert, demikian dikatakan oleh Laurie Helgoe, PhD, seorang Assistant Clinical Professor di West Virginia University, School of Medicine. Bagaimana sebenarnya sifat-sifat si introvert!
· Tak punya teman?
Memang, orang introvert akan lebih sering terlihat sendirian di sebuah sudut sepi dalam sebuah pesta. Tapi, itu bukan karena orang introvert tak punya teman. Helgoe, yang juga menulis buku Introvert Power: Why Your Inner Life is Your Hidden Strength mengatakan, “Berbeda dengan orang yang tidak bisa bersosialisasi, sehingga tak punya pilihan lain selain berdiri sendiri di sebuah sudut, orang introvert memang lebih suka sendirian berada di sana.”
Ditambahkan oleh Helgoe, orang yang introvert sangat menikmati kesendirian dan kesempatan untuk berefleksi, dan akan sangat tersiksa ketika mendapat terlalu banyak stimulasi eksternal. Tentu saja, berlawanan dengan orang ekstrovert yang lebih menyukai kegiatan bersosialisasi, dan cenderung cepat bosan jika sendirian.
Pahami: Berada di tengah keramaian akan menguras energi si introvert. Ia membutuhkan kesendirian dan ketenangan untuk me-recharge energinya agar kembali utuh.
· Pemalu?
Introvert sering disamakan dengan pemalu. Wajar saja, karena baik orang introvert dan orang pemalu terlihat sering membatasi dirinya dari interaksi dengan lingkungan sosial.
Meski begitu, alasannya ternyata berbeda. “Orang yang pemalu sebenarnya ingin berhubungan dengan orang lain, tapi mereka merasa kesulitan untuk bersosialisasi. Sementara, orang introvert lebih memilih menggunakan waktunya untuk bersendiri, karena mereka memang ingin sendiri,” demikian penjelasan Bernardo J. Carducci, profesor psikologi, dan Direktur dari Shyness Research Institute di Indiana University Southeast.
Pahami: Orang introvert membutuhkan space yang lebih besar bagi dirinya sendiri. Dengan begitu ia mendapatkan kebahagiaan. Ia akan terganggu jika merasa ruang pribadinya dilanggar oleh orang lain. (N)
Penulis: Veronica Sri Utami
Simak artikel lengkapnya di Nirmala 09/Tahun 11, edar 1 September 2011